Wednesday, June 26, 2019

Sepenggal Cerita dari Commuter


Botol tak bertuan


Musim liburan sekolah menjadi saat yang ditunggu utamanya oleh anak-anak.  Komuter line menjadi salah satu moda transportasi murah yang dimanfaatkan untuk berlibur.  Sensasi dan pengalaman naik kereta dapat menjadi kisah seru.  Relasi perjalanan yang terus ditambah mempermudah mobilitas di Jabodetabek hingga Rangkasbitung dan Cikampek.

Saat sore hari kereta pun menjadi lebih penuh dari hari biasa akibat pertambahan penumpang musiman.  Satu sisi senang anak-anak menikmati masa bermainnya, tetapi pada sisi lain merasa sedih.  Kenapa sedih?  Pertama, masih saja ada orang yang seenaknya meninggalkan sampahnya di dalam gerbong.  Memang akan ada petugas yang membersihkan.  Akan lebih baik jika penumpang bisa bertanggung jawab terhadap kotoran yang dibawa atau dibuatnya sendiri.  Berilah sedikit empati pada para petugas.  Tidak ada ruginya menyimpan sampah sejenak dan membuangnya pada tempat yang disediakan.


Alasan kedua yang membuat sedih adalah adab menggunakan kendaraan umum.  Transportasi publik artinya ada orang lain yang menggunakan bukan hanya kita sendiri.  Ajarkan kepada anak-anak untuk menghormati penumpang lain.  "Namanya juga anak-anak" bukanlah kalimat sakti yang membenarkan apabila tidak bersikap dengan sebagaimana mestinya.  Bukannya bermaksud nyinyir, akan tetapi anak-anak akan merekam apa yang mereka lihat.  Ketika hal sepele dianggap biasa, di masa depan mereka bisa jadi memiliki empati yang rendah terhadap sesama.



Sunday, June 23, 2019

COME BACK

Aku datang kembali.  Setelah sembilan tahun mati suri dan hanya bisa diakses tanpa bisa mengedit, akun kedua blog pun hadir.  Terima kasih @bengkel_diri dan Ustadzah Nunung yang telah menghadirkan lagi semangat menulis.  
  
Klinik psikologi yang menjadi salah satu materi bengkel diri level 2 membuat ku bisa memahami apa itu inner child dan belajar melakukan self-healing.  Mengingat masa-masa itu tidaklah mudah.  Tembok beton raksasa menjadi penghalang luar biasa.  Sakit, marah, malu dan entah rasa apalagi terus menyeruak.  Komunikasi yang tidak terlalu berjalan baik dengan keluarga inti (orang tua/pasangan), pemarah beserta beberapa sikap negatif lainnya ternyata berakar dari belum berhasil berdamai dengan inner child.

Masa lalu bukanlah belenggu untuk terus maju dan menjadi lebih baik.  Sepahit apapun masa lalu hanya akan menjadi sepenggal kisah dalam kehidupan.  Satu diantara sejuta warna yang bisa terangkai indah.  Terima dan maafkan agar hidup menjadi tenang.